Kedengkian Melahap Jiwa

Oleh: Muhammad Addifuki

Berat hati terasa

Saat ada yang menerima kebaikan

Tersimpul senyum

Kala ada yang tertimpa bala

Kelegaan menggelora

Berbuah petaka di hari akhir nanti

—–


Senin

16 November 2020

14:07


Posted in Syair | Tagged , , , , , | Leave a comment

IKHLAS DALAM KEHIDUPAN

Oleh: Muhammad ad-Difuki

 

Ikhlas. Suatu kata yang memiliki pengertian kerelaan, tulus tak mengharapkan balas. Suatu hal yang harus ada di dalam diri setiap mukmin. Sesuatu yang haruslah melandasi setiap gerak langkah, amal perbuatan setiap mukmin. Seorang mukmin yang tidak memiliki keikhlasan dalam hatinya maka berkuranglah nilai kualitas dirinya. Rusak hatinya. Semakin jelek perbuatannya. Dan semakin rendah tingkat keimanannya.

“Setiap perbuatan tergantung niatnya,” begitu kata Nabi. Seorang mukmin yang berbuat di dunia ini. Melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan tapi tanpa dilandasi keikhlasan. Melainkan dengan rasa keterpaksaan yang diniatkan untuk merengkuh balas budi-balas budi duniawi. Menghilangkan tujuan karena Allah, ikhlas. Apakah akan dapat meraih perolehan Ilahi? Pahala-pahala surgawi? “Dan setiap orang akan mendapat apa yang diniatkan,” begitu lanjut Nabi.

Setiap orang yang di dalam hatinya tidak terdapat keikhlasan akan selalu membawa kezhaliman pada setiap gerak langkahnya. Kebajikan yang diperbuat hanyalah kepalsuan yang pamrih. Jika ada yang membutuhkan pertolongan, akan ditolong kalau sekiranya akan menguntungkan atau setidaknya dapat menghindarkan kerugian. Sebaliknya, akan diabaikan jika dirasa tidak ada untung ruginya.

Hati yang kosong dari rasa ikhlas akan diisi oleh kedengkian. Benci terhadap kebaikan yang diperbuat orang lain. Benci terhadap keuntungan yang diperoleh orang lain. Sebaliknya, hati yang terisi keikhlasan akan puas dengan perolehan yang didapat dan turut gembira terhadap keuntungan yang diterima orang lain. Dengan keikhlasan, maka kebajikan orang lain akan mendorong diri berbuat lebih baik. Kebajikan orang lain akan dijadikan suri tauladan.

Dalam ranah ibadah ritual kepada Allah, keikhlasan seorang mukmin juga merupakan hal yang menentukan tingkat kualitas dari ibadahnya. Seperti halnya perkataan Nabi yang dikutip diatas: “Setiap perbuatan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapat apa yang dia niatkan.” Lantas bagaimana halnya dengan seorang mukmin yang shalat tanpa adanya niat yang ikhlas kepada Allah? Shalat karena ada orang lain yang melihat. Shalat karena ingin dianggap orang sebagai si Sholeh, si taqwa, si ‘alim. Maka “dia akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” Merugilah orang yang seperti ini. Mendapatkan kepalsuan dunia dari orang-orang yang tertipu melihatnya. Kehilangan pahala Allah yang dijanjikan bagi orang-orang yang ikhlas.

Selain itu hati yang tidak ikhlas juga merupakan unsur dari kesyirikan. Syirik, yang merupakan dosa yang tidak akan diampuni selama pelakunya tidak bertobat, dapat muncul dari ke-tidak-ikhlasan hati. Sebagaimana halnya orang yang shalatnya tidak ikhlas seperti contoh di atas. Dimulai dari tiada keikhlasan di hati. Kemudian timbul rasa pamer (riya’) yang akhirnya terlaksana. Tanpa adanya secuil pun niat karena Allah. Padahal riya’, sebagaimana yang pernah dikatakan Nabi, adalah syirik.

Begitulah jika ibadah dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keikhlasan. Dilaksanakan dengan tujuan yang menyimpang dari asalnya. Ibadah yang harusnya dilakukan karena Allah. Diniatkan kepada Allah. Malah dikerjakan dengan menghilangkan tujuan hakiki ini. Tiadanya rasa ikhlas di hati membuatnya beribadah hanya karena adanya untung-rugi duniawi. Agar dilihat dan dipuji orang. Berat melaksanakan dan bahkan tidak melaksanakan jika tak ada orang lain yang melihat.

Jadi, keikhlasan adalah persoalan yang sangat penting. Suatu hal yang harus ada pada setiap orang. Terutama bagi setiap mukmin. Sesuatu yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Sesuatu yang memberikan pengaruh besar pada kehidupan seseorang. Yang dapat membawanya pada kebaikan dunia dan akhirat.

Sekarang bagaimana caranya agar di dalam hati terdapat keikhlasan? Bagaimana caranya agar muncul rasa ikhlas? Karena keikhlasan adalah suatu hal yang baik. Suatu kebaikan. Dan setiap orang asalnya adalah orang baik. “Lahir dalam keadaan fitrah,” kata Nabi. Maka dapat diasumsikan bahwa keikhlasan sudah ada pada setiap orang. Jadi, untuk menjawab pertanyaan ini, baiklah kiranya jika diuraikan mengenai bagaimana keikhlasan bisa hilang dari hati.

Jika seseorang kurang keyakinannya terhadap kekuasaan Allah. Atau bahkan terlebih lagi, tidak terbersit dalam benaknya akan kuasa Allah. Keikhlasan akan surut dari hatinya. Menganggap bahwa akibat-akibat yang timbul dari perbuatannya disebabkan faktor duniawi semata. Tak terpikir akan Allah sebagai faktor yang turut andil dalam segala hal. Sehingga akhirnya segala akibat dari perbuatan yang dilakukannya akan disikapi dengan ketidakpuasan. Tanda akan hati yang tidak ikhlas.

Jika seorang mukmin mulai lupa atau bahkan tidak mengetahui akan hakikat dirinya sebagai manusia. Lupa akan dirinya sebagai makhluk yang lemah. Makhluk yang penuh dengan kekurangan. Maka rasa ikhlas di hati akan sirna. Ketidaksadaran akan kelemahan dan kekurangan menyebabkan harapan berlebihan yang digantungkan pada pundak manusia. Yang hanya akan memberikan kekecewaan dan penyesalan. Karena manusia tidak mampu memuaskan segala harapan.

Sebab selanjutnya mengapa keikhlasan bisa hilang dari hati adalah kecintaan seseorang terhadap dunia. Cinta dunia dan melupakan akhirat. Maka hilanglah rasa ikhlas dari dalam hatinya. Karena cinta terhadap dunia menyebabkan hati menjadi terpaut akan kesenangan-kesenangan dunia. Yang mana dapat membuat orang untuk selalu berusaha mendapatkannya tanpa ada rasa cukup. Tak ada kata gagal baginya demi memperoleh dunia.

Melihat berbagai penyebab bagaimana hilangnya keikhlasan dari dalam hati seseorang sebagaimana yang telah diuraikan diatas. Mudah kiranya untuk ditebak hal-hal apa saja yang dapat memunculkan kembali keikhlasan di dalam hati. Membuat hati menjadi ikhlas.

Untuk membuat keikhlasan bersemi kembali di dalam hati-hati yang kosong dari rasa ikhlas. Seorang mukmin haruslah meningkatkan keyakinannya akan kekuasaan Allah. Menebalkan imannya. Meyakini bahwa Allah-lah yang dapat memberikan manfaat dan mudharat, untung-rugi. Allah yang kuasa akan segala-galanya. Kemudian, hal ini diiringi pula akan keyakinan bahwa manusia, diri ini, adalah makhluk yang lemah. Makhluk yang tidak mempunyai daya dan upaya kecuali atas izin Allah. Makhluk yang tidak layak untuk digantungkan segala harapan kepadanya karena hanya akan mengecewakan, disebabkan kelemahannya.

Selanjutnya, hilangkan lah rasa cinta yang berlebihan terhadap dunia. Kehidupan dunia hanyalah sementara. Dunia ini hanyalah sarana untuk menuju akhirat. Jadi merupakan suatu kesia-siaan jika seseorang berusaha untuk mendapatkan semua kepuasan dan kesenangan dunia yang hanya akan hilang kembali, karena memang sifatnya yang cuma sesaat. Sehingga hanya akan menimbulkan kekecewaan. Berbeda dengan kehidupan akhirat yang merupakan kehidupan terakhir umat manusia, dimana kepuasan dan kesenangan takkan pernah sirna.

Jadi, yakinlah terhadap Allah. Gantungkan segala harapan pada-Nya. Yang jikalau tak diwujudkan-Nya tak akan ada rasa kecewa. Karena Allah tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Dan terakhir, sertakan lah akhirat dalam setiap angan-angan. Insyaallah keikhlasan akan selalu mengiringi di dalam setiap gerak langkah seorang mukmin. Wallahu ‘a’lam.

 

_____

 

Kamis
24-3-2011
10:13 AM

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SEKILAS MEMAHAMI PERBEDAAN PENDAPAT

SEKILAS MEMAHAMI PERBEDAAN PENDAPAT

Oleh: Muhammad Ad-Difuki

Selama ini perbedaan pendapat banyak disikapi secara salah sehingga hampir selalu menimbulkan kemudharatan bagi banyak pihak. Terutama bagi agama Islam itu sendiri.

Untuk itu marilah kita coba bahas sedikit mengenai perbedaan-perbedaan pendapat yang melanda umat ini sejak dulu kala. Agar bisa disikapi secara lebih tepat dengan tujuan yang lurus demi terciptanya kebaikan bersama. Rahmatan lil ‘alamin.

Salah satu penyebab terjadinya perbedaan pendapat adalah karena terdapat beberapa cara yang digunakan dalam suatu proses pengambilan kesimpulan. Diantaranya, qiyas, istihsan dan istishlah.

Qiyas memiliki pengertian, “Penetapan hukum yang sama dari sesuatu kepada sesuatu yang lain karena adanya persamaan ‘illah diantara keduanya menurut pandangan sang penetap hukum/mujtahid.”[1] Atau dapat juga dikatakan, “Menyerupakan satu kasus hukum yang tidak memiliki sandaran nash dengan kasus hukum lain yang memiliki sandaran nash karena ada kesamaan sebab (‘illah) hukum.”[2]

Penerapannya, misalnya, pada hadits Nabi yang melarang makan dan minum pada wadah yang terbuat dari emas dan perak; dan bahwasanya dalam perut pelakunya akan bergolak api neraka jahannam. Disini telah sepakat para ulama akan keharaman menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan perak untuk makan dan minum. Perbedaan muncul dalam hal penggunaan wadah tersebut untuk keperluan selain makan dan minum. Misalnya, mandi, menyemir rambut dan hal-hal lainnya.[3]

Para ulama yang menggunakan metode qiyas berkesimpulan bahwa penggunaan wadah yang terbuat dari emas dan perak selain untuk makan dan minum hukumnya juga haram. Sebaliknya, para ulama yang tidak menggunakan metode qiyas dan menyimpulkan hanya berdasarkan pada  bentuk tekstual hadits berpendapat bahwa selain untuk makan dan minum penggunaan wadah tersebut adalah mubah (boleh).[4]

Metode berikutnya adalah istihsan, yang singkatnya dapat diartikan sebagai, “Berpalingnya mujtahid berdasarkan rasionalitas dari qiyas jali (nyata) kepada qiyas khafi (samar) atau hukum kulliy (umum) kepada hukum juz’iy (spesifik/parsial) demi wujudnya keadilan dan terhindarnya kesulitan.”[5]

Penerapannya, misalnya, tentang seorang wajib zakat yang menyedekahkan seluruh hartanya tanpa meniatkan zakat. Apakah pada dirinya telah gugur kewajiban membayar zakat atau tidak.

Para ulama yang meng-qiyas-kan hal ini dengan niat shalat, yang sebagaimana halnya dengan sedekah, ada yang fardhu dan ada yang sunnah, berkesimpulan bahwa kewajiban zakat pada orang itu belum gugur karena tidak ada penyebutan nama macam sedekahnya. Sebaliknya, dengan cara istihsan para ulama berpendapat bahwa kewajiban zakat sudah gugur. Karena harta yang merupakan kewajiban zakat adalah bagian dari total harta yang disedekahkan fi sabilillah tanpa perlu disebut nama macamnya. Bahkan orang itu dinilai telah melakukan hal yang wajib dan sunnah sekaligus.[6]

Kemudian metode selanjutnya adalah istishlah. Yaitu, menggunakan kemaslahatan yang tidak ada dalilnya secara khusus (mashlahah al-mursalah) sebagai acuan dalam mengambil kesimpulan.[7] Dan cara seperti ini, menurut Abdul Wahhab Khallaf, merupakan cara “yang paling sering digunakan dalam menentukan syariat ketika nash (dalil) tidak ditemukan.”[8] Tapi meskipun begitu, sama seperti metode-metode lainnya, tidak semua sepakat dengan cara seperti ini. Mereka yang menolak memiliki kekhawatiran apabila nanti, sesuatu yang sebenarnya merupakan keburukan kemudian oleh hawa nafsu dipandang sebagai kemaslahatan, setelah itu dijadikan dasar dalam menetapkan hukum.[9]

Itulah beberapa contoh cara atau metode yang digunakan oleh para ulama, yang mana perbedaan dalam hal metode apa yang dipakai, akan menghasilkan perbedaan dalam penarikan kesimpulan.

Selain hal-hal tersebut, pemahaman para ulama dalam memaknai ungkapan yang terdapat dalam dalil-dalil agama juga merupakan sebab adanya perbedaan pendapat. Misalnya, pendekatan dalam memahami ungkapan perintah dan ungkapan larangan pada nash-nash syar’i.

Ungkapan perintah yang ada dalam suatu teks tidak selalu dipahami sebagai suatu kewajiban. Adakalanya ungkapan ini dipandang sebagai sesuatu yang sunnah (anjuran) dan bukan merupakan suatu hal yang wajib.[10]

Contoh dalam hal ini, misalnya, dalam persoalan jual beli tidak tunai (utang piutang). Bagi para ulama yang memahami ungkapan perintah dalam surat Al-Baqarah ayat 282 sebagai suatu kewajiban, yaitu ungkapan uktubuhu (catatlah) dan istasyhidu (persaksikanlah), maka pencatatan dan adanya saksi merupakan hal yang wajib. Sementara itu, bagi ulama-ulama yang memaknai uktubuhu dan istasyhidu hanya merupakan perintah yang bersifat anjuran (sunnah) maka persaksian dan pencatatan dalam transaksi utang piutang tidaklah wajib.[11]

Begitu pula, misalnya, dalam hal pembacaan basmalah dan penggunaan tangan kanan pada saat makan dan dalam hal mengadakan walimatul ‘ursy (pesta pernikahan). Ada yang menganggap bahwa ungkapan perintah dalam hal-hal tersebut adalah wajib dan ada pula para ulama yang berpendapat bahwa dalam persoalan itu ungkapan perintah bermakna sunnah.[12]

Kemudian ungkapan-ungkapan yang bernada larangan dalam teks-teks keagamaan tidaklah selalu dipahami sebagai suatu hal yang haram untuk dilakukan. Seringkali ungkapan ini dipandang sebagai sesuatu yang menunjuk kepada makruh dan bukan haram.[13]

Contoh dalam hal ini, misalnya, tentang tempat-tempat yang dilarang untuk melaksanakan shalat sebagaimana terdapat dalam berbagai hadits Nabi. Para ulama ada yang menganggap ungkapan larangan dalam hadits-hadits tersebut bermakna keharaman. Sehingga, tempat-tempat semisal kuburan, kamar mandi dan kandang unta dinilai haram untuk dijadikan tempat shalat. Sementara itu, ulama-ulama yang memaknai larangan dalam hadits-hadits itu menunjuk kepada hal yang makruh berkesimpulan bahwa boleh dan sah shalat di tempat-tempat tersebut. Begitu juga dalam hal meletakkan kedua tangan di pinggang ketika shalat. Ada yang menganggap bahwa larangan itu bermakna keharaman dan ada juga yang berpendapat larangan itu bermakna kemakruhan.[14]

Dengan mengkaji hal-hal seperti inilah setidaknya kita bisa sedikit memahami perbedaan-perbedaan pendapat di dalam Islam. Kita bisa mulai memahami bagaimana imam Malik tidak mengharamkan memakan binatang buas padahal ada hadits yang berisi larangan dalam hal ini. Tetapi imam Malik hanya menghukuminya sebagai makruh. Dan, pendapat imam Malik ini bila dilacak transmisinya maka akan sampai kepada sahabat, yaitu Ibnu Abbas. Sahabat Rasulullah ini juga berpendapat demikian.[15]

Perbedaan pendapat dikalangan sahabat juga merupakan hal yang biasa. Misalkan mengenai informasi hadits Nabi dari Ibnu Umar bahwa “mayat disiksa karena tangisan keluarganya,” yang berbeda dengan pendapat ‘Aisyah yang bahkan mengutarakan kemungkinan bahwa Ibnu Umar telah melakukan kekeliruan. ‘Aisyah berkata bahwa Rasulullah tidak pernah bersabda demikian. Yang benar bagi ‘Aisyah adalah Rasul bersabda, “Sesungguhnya Allah menambah siksa orang kafir akibat tangisan keluarganya.”[16]

Bahkan di masa Nabi para sahabat pernah berbeda pendapat. Nabi bersabda, “Jangan ada yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Para sahabat kemudian saling berbeda pendapat. Ada yang tidak shalat Ashar kecuali di tempat yang dituju walau waktu sudah berlalu. Ada pula yang shalat Ashar meskipun belum sampai di tujuan. Nabi tidak mempermasalahkan kedua kelompok sahabat yang berbeda ini. Peristiwa ini terjadi di masa perang Al-Ahzab.[17]

Setelah kita sedikit melihat mengenai bagaimana sebenarnya perbedaan-perbedaan di kalangan kaum muslimin seharusnya membuat cara pandang kita semakin baik.

Keyakinan yang kita miliki harus menjadi absolut ketika diterapkan pada diri kita sendiri dan seyogyanya haruslah relatif ketika berhadapan dengan orang lain. Jadi apa yang kita anggap harus untuk dilakukan maka kita harus melakukannya, tanpa memaksa orang lain ikut melakukannya juga. Karena bisa jadi perbuatan yang bagi kita harus dilakukan, bagi dia, tidak harus dilakukan. Begitupun juga untuk perbuatan-perbuatan yang kita anggap tidak boleh dilakukan. Maka jika kita tidak ingin melakukan perbuatan itu, jangan pula melarang orang lain yang boleh jadi memiliki pendapat yang berbeda.

Contoh dalam hal ini, misalnya, jika kita memang merasa dalam shalat tarawih harus dilakukan sebanyak 20 rakaat, maka, laksanakanlah sebanyak itu tanpa harus memaksa orang lain yang berkeyakinan dengan jumlah rakaat lebih sedikit. Dan juga, seperti misalnya yang sudah disebut dalam pembahasan tentang qiyas, jika kita menganggap bahwa wadah yang terbuat dari emas dan perak haram digunakan secara total. Maka, tak perlu lah mencegah orang yang menganggap bahwa wadah tersebut boleh digunakan untuk selain makan dan minum.

Jadi prinsip yang harus dikembangkan adalah absolusitas  ke dalam diri sendiri dan relativitas ke saudara-saudara sesama muslim. Karena pemaksaan kehendak tak dibolehkan dalam Islam. Dan, perbedaan tidak harus menjadi suatu pertikaian.

Dengan memahami perbedaan diharapkan tidak akan muncul sikap fanatik yang ekstrem. Suatu bentuk sikap yang dapat memicu perpecahan dan saling bermusuhan. Dengan adanya kesepahaman untuk berbeda, mengakui bahwa perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan–bahkan mesti terjadi, menyadari bahwa Islam sendiri lah yang membuka peluang terjadinya perbedaan; dapat menimbulkan semangat bertoleransi yang akan membawa kepada persatuan umat.

            Amin Allahumma amin.

Sabtu

14-Sep-2013

17:42

DAFTAR PUSTAKA

Asmawi, Perbandingan Ushul Fiqh, Amzah, Jakarta, 2011

Kadar M. Yusuf, Studi Alquran, Edisi Kelima, Amzah, Jakarta, 2012

Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Mizan, Cetakan Keduapuluh, Bandung, 1999

Shalahuddin bin Ahmad Al-Adlabi, Menalar Sabda Nabi: Menerapkan Metode Kritik Matan dalam Studi Hadis, Insan Madani, Yogyakarta, 2010

Yusuf Qardhawai, Membumikan Syariat Islam: Keluwesan aturan Ilahi untuk Manusia, Arasy, Bandung, 2003

Yusuf Qardhawi, Halal dan Haram, Robbani Press, Cetakan Keempat, Jakarta, 2004


[1]  Asmawi, Perbandingan Ushul Fiqh, Amzah, Jakarta, 2011, hal. 96.

[2]  Yusuf Qardhawai, Membumikan Syariat Islam: Keluwesan aturan Ilahi untuk Manusia, Arasy, Bandung, 2003, hal. 167.

[3]  Asmawi, hal. 109-110.

[4]  Ibid., hal. 110 dan Qardhawi, hal. 168.

[5]  Ibid. dan Qardhawi, hal. 169 dan 172.

[6]  Ibid., hal. 123 dan 124.

[7]  Ibid., hal.131 dan Qardhawi hal. 173.

[8]  Qardhawi, hal. 172.

[9]  Asmawi, hal. 133.

[10]  Kadar M. Yusuf, Studi Alquran, Edisi Kelima, Amzah, Jakarta, 2012, hal. 81 dan Asmawi, hal. 223.

[11]  Asmawi, hal. 224.

[12]  Ibid., hal. 224-227.

[13]  Ibid., hal. 230-231.

[14]  Ibid., hal. 233-234.

[15]  Yusuf Qardhawi, Halal dan Haram, Robbani Press, Cetakan Keempat, Jakarta, 2004, hal. 59.

[16]  Shalahuddin bin Ahmad Al-Adlabi, Menalar Sabda Nabi: Menerapkan Metode Kritik Matan dalam Studi Hadis, Insan Madani, Yogyakarta, 2010, hal. 122-123.

[17]  Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Mizan, Cetakan Keduapuluh, Bandung, 1999, hal. 125.

Posted in Menghidupkan Diskusi | Leave a comment

Introspeksi Diri

Introspeksi Diri

Oleh: Muhammad ad-Difuki

 

Berdalil-lah sebanyak-banyaknya, seimbangkan juga dengan perilaku.

Luruskan niat, sempurnakan ikhtiar.

Manusia tak tahu persis apa isi hati orang lain, dan manusia juga selalu luput dari mengetahui perbuatan “busuk” yang kita sembunyikan.

Tapi tidak demikian dengan Allah. Dia maha mengetahui isi hati, dan maha melihat setiap perbuatan yang dilakukan.

Takut-lah terhadap Allah.

Manusia bisa tertipu, tapi tidak demikian dengan Allah.

Inna lillaahi wa inna ‘ilaihi rooji’uun…..

26 April 2011

 22:49

Posted in Pernak-Pernik Akidah | Leave a comment

TIDAK BERMUSUHAN

TIDAK BERMUSUHAN

Oleh: Muhammad Ad-Difuki

 

Sesama muslim itu adalah bersaudara. Bersaudara harus saling mencintai. Persaudaraan yang tidak dibedakan oleh kedudukan, harta dan jabatan. Tidak dibedakan antara yang kaya dan miskin, yang pintar dan awam. Tidak dibedakan antara madzhab yang satu dan madzhab yang lainnya. Semuanya adalah bersaudara.

Tidak boleh misalnya, seorang muslim yang kaya hanya mau mencintai dan menganggap saudara sesama muslim yang kaya saja. Tidak boleh, seorang yang mengaku beriman hanya mau bersaudara dengan yang berilmu tinggi. Tidak mencintai bahkan membenci orang-orang awam yang dianggap bodoh tak berilmu. Tak mau menganggapnya sebagai saudara.

Rasul bersabda, “La tu’minu hatta tahabbu,” tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai.

Kita sama saja tidak beriman kalau kita tidak saling mencintai.

Mencintai siapa?

“La yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhihi ma yuhibbu li nafsihi”. Tidak beriman seseorang di antara kalian sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

Jadi disini masing-masing dari kita dibebani kewajiban untuk saling mencintai. Tidak cukup hanya rutinitas ibadah ritual kita saja.

Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang saling mencintai. Jika mereka saling bermusuhan, tidak ada rasa cinta diantara mereka, mereka bukanlah orang beriman.

Jangan sampai kita yang merasa memiliki iman, tapi sebenarnya tidak termasuk dalam golongan orang beriman.

Sungguh sangat merugi apabila kita yang selama ini merasa sebagai orang shaleh, banyak beribadah, lisan kita sering mengeluarkan dalil-dalil agama, ternyata bukan orang yang beriman.

Kita yang sudah berbangga diri merasa sebagai ulama pewaris Nabi ternyata bukanlah orang beriman berdasarkan tolak ukur hadits Rasulullah Muhammad SAW. “La tu’minu hatta tahabbu.”

Sungguh teramat sangat merugi jika ternyata neraka-lah yang menunggu kita di hari akhir nanti. Hanya karena kita tidak memiliki cinta di antara sesama kita. Cinta sesama muslim. Persoalan yang mungkin kita anggap kecil tapi sebenarnya sangat menentukan, yang sampai-sampai membuat sorang Rasul Allah, Nabi Muhammad SAW bersumpah ketika mengutarakannya. “Walladzi nafsi biyadihi,” DEMI DZAT YANG JIWAKU BERADA DI TANGANNYA, “La tadkhulul jannah, hatta tu’minu.” KALIAN TIDAK AKAN MASUK SURGA SAMPAI KALIAN BERIMAN.

“Wa la tu’minu hatta tahabbu.” Dan tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai.

Kita yang tidak tahu kapan kita akan mati, berapa lama lagi sisa umur kita, haruslah sesegera mungkin menumbuhkan rasa cinta dalam qolbu demi masa depan di hari akhir nanti.

Tapi bagaimanakah caranya bila rasa saling membenci telah mewarnai gerak langkah kita.

Nabi pernah berkata, “Ala adullukum ‘ala syaiin idza fa’alatumuhu tahababtum.” Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai?

“Afsyus salama bainakum.” Sebarkan salam di antara kalian.

Wa billahit taufiq wal hidayah. Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

 

______

Selasa

30-Juli-2013

04:11 AM

Posted in Tafsir Hadits | 2 Comments

Keabadian Sukses

Dunia ini cuma untuk sementara.
Jangan terlalu terpaut terhadap dunia.
Sekedarnya saja, sebagai alat menggapai kesuksesan (di akhirat tentunya).

Hati-hati cinta dunia.
Jadilah orang yang sukses di negeri abadi.
Jangan berusaha mati-matian merenggut sukses dunia, yang meskipun dapat pada akhirnya cuma akan lenyap tak tersisa.

Jangan sia-siakan hidup ini hanya untuk mengincar kesementaraan nikmat yang semu.

Kikis habislah rasa pamer dalam diri, karena hal hina inilah yang merusak orientasi hidup.
Bebaskanlah jiwa.
Lepaskan belenggu yang membuat diri menjadi budak pamer terhadap sekitar.

Kepuasan pamer hanyalah ilusi setan.

Raihlah keabadian sukses tanpa harus ada orang lain yang mengetahui.

Jumat
28-Sep-2012
09:22 AM

Posted in Syair | Leave a comment

Sekelumit Tentang Hadits Palsu

SEKELUMIT TENTANG HADITS PALSU

Oleh: Muhammad Ad-Difuki

 

Hadits merupakan sumber kedua dalam agama Islam setelah al-Quran. Isi dari hadits dapat berupa perkataan, tindakan (perbuatan) ataupun sikap diamnya Rasulullah Muhammad S. A. W.. Umat Islam haruslah menggunakan hadits—dan juga al-Quran tentunya—untuk mengetahui dan memahami agama Islam sehingga dapat menjalankan ajaran agama dengan sebenar-benarnya. Karena di dalam hadits terdapat suri teladan dan bimbingan dari Rasulullah yang harus diikuti dan seyogyanya dicontoh, sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah S. W. T. melalui firmannya dalam al-Quran bahwa umat Islam haruslah taat kepada Rasul. Untuk itu pulalah hadits—bersama-sama dengan al-Quran—dianggap sebagai sumber agama Islam.

Fungsi dari hadits sebagai sumber agama adalah menjelaskan, memperinci dan mempraktekkan (memberi contoh) bagaimana maksud dari ayat-ayat al-Quran. Bagaimana melaksanakan perintah-perintah Allah S. W. T. dalam al-Quran. Misalnya perintah mengerjakan ibadah shalat. Di dalam berbagai hadits terdapat berbagai perincian tentang pelaksanaan hal ini. Perkataan Nabi dalam salah satu haditsnya yang menyuruh kaum muslimin untuk shalat sebagaimana melihat Nabi melaksanakan shalat. Sehingga gerakan-gerakan shalat yang dilakukan Nabi dicontoh oleh para sahabat dan terdokumentasikan dalam kitab-kitab hadits. Maka kaum muslimin yang ingin mengetahui tata cara shalat dapat berpedoman kepada hadits-hadits yang berisikan persoalan ini agar dapat mengerjakan shalat dengan baik dan benar. Sesuai dengan shalatnya Nabi. Itulah contoh dari kegunaan hadits bagi umat Islam.

Hal penting yang perlu dipahami tentang hadits adalah hadits tidaklah suci dan terjaga seperti halnya al-Quran. Kitab suci al-Quran merupakan kalam Allah yang sakral sehingga terjaga kemurniannya. Tidak berubah surat maupun ayat-ayatnya. Tetap asli isinya seperti sedia kala. Sedangkan hadits sangat rawan terhadap perubahan dan bahkan pemalsuan. Sehingga akhirnya banyak pula beredar hadits-hadits palsu, yang seringkali (karena tidak diketahui kepalsuannya) dianggap sebagai hadits asli.

Dengan menyadari pentingnya persoalan seperti ini. Maka banyak ulama yang melakukan penyeleksian terhadap hadits-hadits yang ada. Mereka mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk menjaga rantai ajaran agama Islam. Mengkonsentrasikan diri menyibak penyimpangan dan kepalsuan yang masuk dan melekat dalam sumber kedua Islam ini.

Para ulama hadits telah berjasa besar dalam menjaga kemurnian agama Islam. Dari tangan mereka lahirlah ilmu-ilmu dalam bidang hadits yang dapat menguak seluk beluk suatu hadits. Sehingga dapat diketahui mana hadits yang dapat dijadikan pegangan dan mana hadits yang harus ditolak. Perbuatan apa yang sesuai dengan syariat karena berdasarkan hadits yang benar. Dan perbuatan yang bagaimana yang harus ditinggalkan, karena—ternyata diketahui—dilakukan dengan berlandaskan hadits yang batil.

Usaha penyeleksian hadits oleh ulama-ulama hadits dengan melakukan penelitian yang mendalam juga telah membongkar, misalnya saja, motif dari orang-orang yang sengaja memalsukan hadits. Orang-orang yang berdusta atas nama Rasul Allah. Telah diketahui bahwa ternyata alasan para pemalsu hadits dalam melakukan perbuatan kotornya (membuat hadits palsu) tidak saja hanya yang bertujuan merusak Islam. Banyak pula dari kalangan pemalsu yang memiliki tujuan mulia. Seperti, ingin membuat orang rajin beribadah atau ingin membuat orang berhenti maksiat. Mereka biasanya memalsukan hadits seputar keutamaan amal tertentu atau hadits-hadits tentang ancaman dan ganjaran. Hadits palsu mereka umumnya berisi mengenai balasan pahala-pahala yang luar biasa yang akan didapat hanya karena perbuatan-perbuatan yang sepele. Dan juga berisikan tentang ancaman-ancaman siksa yang teramat dahsyat yang akan ditimpakan kepada orang yang padahal cuma berbuat dosa yang tidak seberapa.

Dan ternyata tujuan pemalsuan untuk memberikan dorongan berbuat baik dan berhenti berbuat jahat inilah yang bahkan dianggap lebih merusak dan lebih berbahaya oleh para ulama hadits, dibandingkan dengan motif pemalsuan yang memang anti Islam. Karena terbukti pemalsuan seperti ini telah menimbulkan kesesatan pikir dan kesimpangsiuran dalam pemahaman sebagian kaum muslimin. Sehingga akhirnya muncul dan berkembanglah perilaku-perilaku bid’ah (mengada-ada) di kalangan umat Islam.

 

Rabu

2-Maret-2011

6:21 AM – 8:35 AM

 

Posted in Seputar Hadits | Leave a comment

Surat Kepada Tuhan

Surat Kepada Tuhan

Oleh: Muhammad Ad-Difuki

 

Apakah harus mencintai-Mu agar dapat memasuki surga-Mu?

Atau cukup hanya dengan mematuhi perintah-Mu tanpa ada rasa terhadap-Mu?

Apakah bagi yang mengenal-Mu akan pasti mencintai-Mu?

Ataukah bisa untuk kenal, tahu dan yakin akan diri-Mu tanpa harus mencintai-Mu?

Apakah hati ini diharuskan terpaksa mencintai-Mu?

Bukankah batin dan nurani tak bisa dipaksa?

Hanya Kau-lah yang maha mengetahui

 

 

Jumat

12-03-2010

03:10

 

Posted in Syair | Leave a comment

Lahiriah yang Semu

Lahiriah Yang Semu

 

Oleh: Muhammad ad-Difuki

 

Ku melangkah di jalan-Mu

Tanpa mengetahui apakah keikhlasan mengiringi

Setiap derap yang terjejak

 

Ku menyebut nama-Mu

Tanpa memahami apakah makna yang terukir

Dalam hitungan kata yang terucap

 

Ku menjalankan perintah-Mu

Tanpa menyadari apakah ini bentuk kepatuhan

Atau hanya kebiasaan yang tertanam tanpa kesan

 

 

 

Jumat

12-03-2010

 02:40

Posted in Syair | Leave a comment

Nafsu Surgawi

Nafsu Surgawi

 

Oleh: Muhammad Ad-Difuki

 

 

Ketika aku menghampiri-Mu

Aku tak tahu

Apakah aku perduli kepadamu

Atau hanya pada iming-iming-Mu

Apakah demi diri-Mu

Atau demi kepuasan yang takkan terhenti

Dalam alam kemuliaan

Yang kenikmatannya belum pernah terbayang

 

 

 

Jumat

12-03-2010

01:57

 

Posted in Syair | Leave a comment